Bukan Sekadar Overthinking, Ini Alasan Generasi Z Rentan Mengalami Eco Anxiety
Highlight:
- Eco anxiety merupakan respons emosional terhadap ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
- Generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan karena tumbuh di era krisis iklim dan paparan informasi digital.
- Mengubah rasa cemas menjadi aksi nyata dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus memberi dampak positif bagi lingkungan.
“Kalau Bumi Terus Dirusak, Masa Depan Kita Akan Seperti Apa?”
Pernah tidak, setelah melihat berita tentang cuaca ekstrem, banjir, atau kebakaran hutan, Anda justru merasa cemas memikirkan masa depan? Pikiran seperti “bagaimana nanti saat berkeluarga?” atau “apakah bumi masih layak ditinggali?” ternyata semakin banyak dirasakan oleh Generasi Z.
Perasaan tersebut bukan berarti Anda terlalu banyak berpikir atau sekadar overthinking. Melalui artikel ini, Anda akan memahami apa itu eco anxiety, mengapa Generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalaminya, serta bagaimana mengelola kecemasan tersebut agar berubah menjadi aksi yang positif.
Apa Itu Eco Anxiety?

Eco anxiety adalah perasaan cemas, khawatir, sedih, atau takut terhadap dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Meskipun belum dikategorikan sebagai gangguan mental, kondisi ini diakui sebagai respons psikologis yang semakin sering muncul di berbagai belahan dunia.
Perubahan iklim kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari suhu yang semakin panas, musim yang tidak menentu, hingga meningkatnya frekuensi bencana alam membuat banyak orang merasa masa depan menjadi lebih sulit diprediksi.
Di sisi lain, informasi mengenai kondisi lingkungan kini dapat diakses dalam hitungan detik. Berita mengenai mencairnya es di kutub, polusi plastik, atau hilangnya habitat satwa liar terus muncul di media sosial sehingga rasa khawatir semakin mudah berkembang.
Baca Juga: 5 Manfaat Menghirup Udara Pagi untuk Atasi Stres Kerja
Mengapa Generasi Z Paling Rentan Mengalami Eco Anxiety?

1. Mereka Tumbuh Bersama Krisis Iklim
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Z lahir ketika isu perubahan iklim sudah menjadi pembahasan global. Mereka menyaksikan langsung bagaimana berbagai bencana alam terjadi lebih sering dibandingkan beberapa dekade lalu.
Hal tersebut membuat banyak anak muda merasa bahwa merekalah yang akan menghadapi dampak terbesar dari krisis iklim di masa depan. Kekhawatiran ini kemudian berkembang menjadi eco anxiety.
2. Terlalu Dekat dengan Arus Informasi
Media sosial membuat Generasi Z selalu terhubung dengan berbagai informasi. Di satu sisi, hal ini meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi di sisi lain juga membuat mereka terus-menerus terpapar kabar buruk mengenai kondisi bumi.
Ketika informasi negatif dikonsumsi tanpa jeda, otak cenderung merasa bahwa ancaman tersebut selalu berada di depan mata. Akibatnya, rasa cemas menjadi lebih mudah muncul.
3. Lebih Peduli terhadap Isu Keberlanjutan
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lebih sadar terhadap isu lingkungan. Mereka lebih selektif memilih produk, mendukung perusahaan yang menerapkan sustainability, hingga aktif menyuarakan berbagai kampanye lingkungan.
Namun, semakin besar kepedulian seseorang terhadap suatu isu, semakin besar pula kemungkinan munculnya rasa khawatir ketika melihat masalah tersebut belum terselesaikan. Inilah yang membuat eco anxiety lebih sering dialami oleh Generasi Z.
4. Merasa Tidak Memiliki Kendali
Banyak anak muda merasa bahwa perubahan iklim merupakan masalah yang terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu individu. Perasaan tidak berdaya inilah yang sering kali memicu stres, frustrasi, hingga kehilangan harapan.
Padahal, setiap langkah kecil tetap memiliki arti. Ketika seseorang mulai menyadari bahwa dirinya dapat berkontribusi, rasa cemas biasanya perlahan berubah menjadi motivasi.
5. Bagaimana Cara Menghadapi Eco Anxiety?
Menghindari seluruh informasi mengenai perubahan iklim bukanlah solusi. Sebaliknya, pilihlah sumber informasi yang kredibel dan batasi konsumsi berita secara berlebihan agar pikiran tidak terus-menerus dipenuhi rasa khawatir.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah mengubah kecemasan menjadi tindakan nyata. Mengikuti kegiatan seperti penanaman mangrove, coral planting, forest bathing, atau aksi bersih pantai dapat membantu seseorang merasa lebih berdaya karena ikut menjadi bagian dari solusi.
Membangun komunitas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan juga dapat memberikan dukungan emosional. Ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki tujuan serupa, rasa optimis biasanya akan tumbuh lebih besar dibandingkan rasa takut.
Kepedulian terhadap lingkungan akan terasa lebih bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata. Berbagai aktivitas berbasis alam tidak hanya membantu meningkatkan kesadaran terhadap isu keberlanjutan, tetapi juga memberikan pengalaman yang mempererat hubungan antarmanusia dengan alam.
Dari Rasa Cemas Menjadi Kontribusi Nyata
Eco anxiety adalah respon yang semakin banyak dialami, terutama oleh Generasi Z yang tumbuh di tengah berbagai tantangan perubahan iklim. Rasa cemas tersebut bukan sesuatu yang harus diabaikan, tetapi dapat menjadi dorongan untuk mulai mengambil langkah-langkah sederhana yang memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Bumi Journey hadir sebagai partner Anda dalam merancang program yang sustainable dan regenerative. Dengan pendekatan yang terukur, berdampak, dan menyenangkan, kami siap membantu Anda menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar memorable, tetapi juga mendorong lahirnya aksi nyata untuk menjaga lingkungan.
Konsultasikan ide Anda bersama tim Bumi Journey untuk menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan sekolah maupun perusahaan Anda. Hubungi kami sekarang.
FAQ:
Mengapa keterlibatan masyarakat penting dalam menjaga lingkungan?
Partisipasi masyarakat membantu menciptakan perubahan yang lebih luas karena pelestarian lingkungan membutuhkan kolaborasi antara individu, komunitas, pemerintah, dan sektor swasta.
Apa yang dimaksud dengan gaya hidup berkelanjutan?
Gaya hidup berkelanjutan adalah kebiasaan sehari-hari yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, seperti menghemat energi, mengurangi sampah, dan menggunakan sumber daya secara bijak.
Mengapa aktivitas di alam sering dikaitkan dengan kesehatan mental?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di alam dapat membantu menurunkan tingkat stres, meningkatkan suasana hati, dan memberikan efek relaksasi bagi tubuh maupun pikiran.
Penulis: Diftya Maulidza | Editor: Lidia Faiza Jasmine
