Mengapa Dampak Perubahan Iklim Semakin Terasa dalam Kehidupan Sehari-hari?
Highlight:
- Iklim bumi memang selalu berubah, tetapi pemanasan yang terjadi sekarang berlangsung sangat cepat akibat aktivitas manusia.
- Dampak perubahan iklim tidak lagi berjarak, melainkan sudah hadir di sekitar kita lewat cuaca ekstrem, karhutla, dan banjir pesisir.
- Menjaga pohon dan ekosistem adalah salah satu langkah mitigasi paling logis yang bisa didukung oleh perusahaan.
Melihat sejarah bumi, iklim memang pernah berubah. Namun, yang menjadi perhatian dunia saat ini adalah seberapa cepat perubahan itu terjadi. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bahkan mencatat bahwa periode 2015–2025 merupakan rentang sebelas tahun terpanas dalam sejarah observasi manusia.
Perubahan iklim sering kali dianggap sebagai isu global yang jauh dari keseharian. Padahal, persoalan ini bukan sekadar tentang “suhu bumi yang naik”, melainkan tentang gangguan nyata pada sistem yang menopang kehidupan manusia.
Bagaimana Aktivitas Manusia Mengubah Lingkungan?
Seiring bertambahnya populasi dan kebutuhan manusia, pembangunan juga berkembang. Rumah, jalan, kawasan industri, pusat bisnis, transportasi, hingga berbagai fasilitas produksi dibutuhkan untuk menunjang kehidupan dan perekonomian.
Di balik perkembangan tersebut, ada kebutuhan energi dan sumber daya yang besar. Penggunaan bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca, sementara perubahan penggunaan lahan seperti deforestasi juga dapat melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan dalam ekosistem.
IPCC memperkirakan sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya menyumbang sekitar 13–21% emisi gas rumah kaca antropogenik global pada 2010–2019. Pada saat yang sama, ekosistem darat masih berperan sebagai penyerap karbon dalam jumlah besar.
Artinya, pembangunan dan kebutuhan manusia bukan sesuatu yang harus dihentikan. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kebutuhan tersebut dipenuhi tanpa terus meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
Perubahan iklim sering terasa seperti persoalan yang jauh karena istilahnya terdengar sangat besar. Padahal, dampaknya dapat muncul dalam bentuk yang cukup familiar, seperti musim yang berubah, suhu yang semakin panas, hujan ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan, hingga risiko banjir di wilayah pesisir.
WMO melaporkan bahwa kejadian ekstrem seperti panas ekstrem, hujan lebat, dan siklon telah menimbulkan gangguan besar bagi masyarakat dan perekonomian di berbagai wilayah dunia.
Dengan kata lain, perubahan iklim bukan hanya cerita tentang suhu bumi yang naik. Ada perubahan pada sistem alam yang kemudian ikut memengaruhi kehidupan manusia.
Baca Juga: Contoh Program CSR yang Berkelanjutan untuk Meningkatkan Dampak Sosial dan Lingkungan
Di Indonesia, Salah Satunya Terlihat dari Risiko Kebakaran Hutan

Indonesia memiliki wilayah hutan yang sangat luas, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Ketika kondisi menjadi lebih kering, risiko kebakaran hutan dan lahan juga dapat meningkat, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut atau vegetasi yang mudah terbakar.
Pada 2026, BMKG memperingatkan bahwa El Niño berpotensi membuat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, termasuk di sejumlah wilayah Kalimantan.
Namun, penting membedakan perubahan iklim dengan satu kejadian kebakaran tertentu. Perubahan iklim dapat meningkatkan kondisi yang mendukung terjadinya atau memburuknya kejadian tertentu, tetapi penyebab kebakaran di lapangan juga dapat melibatkan aktivitas manusia dan kondisi lokal.
Di Wilayah Pesisir, Dampaknya Bisa Berupa Banjir Rob

Kalau karhutla lebih mudah dirasakan di wilayah daratan, masyarakat pesisir menghadapi bentuk risiko yang berbeda.
Pemanasan bumi menyebabkan air laut mengembang dan es daratan mencair, yang kemudian berkontribusi terhadap kenaikan muka laut. Ketika kenaikan muka laut bertemu dengan pasang tinggi, penurunan muka tanah, atau kondisi pesisir tertentu, risiko banjir pesisir dapat meningkat.
Fenomena high tide flooding bahkan semakin sering terjadi di sejumlah wilayah pesisir Amerika Serikat. NOAA mencatat bahwa frekuensi banjir pasang di komunitas pesisir AS saat ini lebih dari dua kali dibandingkan tahun 2000.
Di Indonesia sendiri, banjir rob juga menjadi persoalan di sejumlah kawasan pesisir. BMKG menjelaskan bahwa kenaikan muka laut yang berkaitan dengan pemanasan global dapat meningkatkan risiko banjir rob, meskipun kondisi lokal seperti pasang surut dan penurunan muka tanah juga berperan.
Jika Iklim Makin Kritis, Apa Peran Pepohonan?
Melihat besarnya dampak perubahan iklim di atas, kita sering bertanya: adakah penangkal alaminya?
Di sinilah pepohonan masuk sebagai solusi. Sering kali, pohon dipandang hanya sebagai elemen “penghijauan” atau peneduh. Padahal, dalam konteks krisis iklim, fungsi pohon jauh lebih vital. Hutan adalah teknologi penyerap karbon alami terbaik yang kita miliki.
Melalui proses fotosintesis, pohon menyerap karbon dioksida di atmosfer dan menyimpannya ke dalam tanah. Lebih dari itu, akar pepohonan juga mengikat air hujan, mencegah longsor, meminimalisir kekeringan, dan memecah intrusi air laut di pesisir. Singkatnya, membicarakan pohon berarti kita sedang menyelamatkan udara, air, dan tanah sekaligus.
Meski menanam pohon bukan satu-satunya solusi krisis iklim (mengurangi emisi industri tetap wajib dilakukan), perlindungan ekosistem adalah mitigasi yang paling membumi dan bisa segera diwujudkan.
Baca Juga: Tree Planting vs Mangrove Planting, Mana yang Lebih Cocok untuk Perusahaan Anda?
Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

Perusahaan mungkin tidak bisa menyelesaikan persoalan perubahan iklim sendirian. Tetapi perusahaan tetap memiliki ruang untuk berkontribusi melalui cara yang sesuai dengan kapasitas dan aktivitas bisnisnya.
Salah satunya adalah menjadikan tree planting sebagai bagian dari program CSR atau employee volunteering. Karyawan dapat terlibat langsung dalam penanaman, belajar tentang kondisi ekosistem lokal, memahami pentingnya pohon, sekaligus melihat bahwa aksi lingkungan membutuhkan proses yang lebih panjang daripada satu hari kegiatan.
Kegiatan tersebut juga dapat dikombinasikan dengan edukasi lingkungan, nature experience, atau team bonding. Dengan begitu, karyawan tidak hanya datang untuk menanam bibit, tetapi memahami alasan di balik kegiatan dan bagaimana kontribusi mereka menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan.
Langkah Nyata Perusahaan, Lebih dari Sekadar Seremoni

Perusahaan memang tidak bisa menghentikan perubahan iklim sendirian, namun sektor bisnis punya ruang besar untuk berkontribusi.
Banyak perusahaan mulai menjadikan pelestarian alam, seperti penanaman mangrove dan pohon darat, sebagai agenda utama dalam program CSR atau employee volunteering. Dengan cara ini, karyawan tidak hanya bersosialisasi di luar kantor, tetapi mendapat edukasi lingkungan dan melihat langsung mengapa satu pohon kecil sangat berharga bagi masa depan iklim kita.
Bumi Journey hadir sebagai partner Anda dalam merancang berbagai program peduli lingkungan yang sustainable, edukatif, dan berdampak. Mulai dari penanaman pohon, employee volunteering, hingga aktivitas konservasi lainnya, kami siap membantu menciptakan pengalaman yang bermakna sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi Mother Earth.
Konsultasikan ide Anda bersama tim Bumi Journey untuk merancang program keberlanjutan yang sesuai dengan tujuan perusahaan Anda. Hubungi kami sekarang untuk menjadi bagian dari upaya menjaga masa depan pesisir Indonesia.
FAQ:
1. Apakah perubahan iklim sama dengan perubahan cuaca?
Tidak. Cuaca berlangsung dalam waktu singkat, sedangkan perubahan iklim melihat perubahan pola cuaca dalam jangka panjang.
2. Mengapa perubahan iklim bisa menyebabkan cuaca ekstrem?
Pemanasan bumi dapat mengubah pola suhu, curah hujan, laut, dan atmosfer sehingga meningkatkan risiko beberapa jenis kejadian ekstrem.
3. Apakah menanam pohon bisa mengatasi perubahan iklim?
Menanam pohon bukan solusi tunggal, tetapi dapat membantu menyerap karbon, menjaga ekosistem, dan meningkatkan ketahanan lingkungan.
Penulis: Diftya Maulidza | Editor: Lidia Faiza Jasmine
