Bukan Cuma Hutan, Laut Juga Punya Peran Besar Menyimpan Emisi Karbon
Highlight:
- Hutan bukan satu-satunya penyerap karbon alami. Laut juga menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
- Mangrove, lamun, dan ekosistem pesisir membantu menangkap karbon dan menyimpannya, termasuk di dalam sedimen.
- Menjaga laut berarti mempertahankan salah satu sistem alami yang membantu mengurangi karbon di atmosfer.
Ketika membicarakan perubahan iklim, hutan sering disebut sebagai salah satu penyerap karbon alami yang penting. Pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam batang, akar, daun, serta tanah.
Tapi ada bagian lain dari Bumi yang juga punya peran besar dalam siklus karbon adalah laut.
Laut menyerap sekitar seperempat hingga sepertiga karbon dioksida yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Karbon tersebut kemudian mengalami berbagai proses fisik, kimia, dan biologis sebelum sebagian tersimpan di dalam ekosistem dan sedimen laut.
Artinya, ketika kita membicarakan penyerap karbon, perhatian kita tidak seharusnya hanya tertuju pada hutan. Laut dan ekosistem pesisir juga merupakan bagian penting dari sistem alami yang membantu mengatur karbon di Bumi.
Bagaimana Laut Bisa Menjadi Penyerap Karbon?
Karbon dioksida dari atmosfer dapat larut ke permukaan laut. Setelah masuk ke laut, karbon tersebut kemudian bergerak melalui berbagai proses yang melibatkan sirkulasi air dan organisme laut.
Salah satunya melalui fitoplankton, organisme mikroskopis yang melakukan fotosintesis dengan mengambil karbon dioksida. Ketika organisme ini mati atau dimakan organisme lain, sebagian karbon dapat berpindah ke lapisan laut yang lebih dalam.
Prosesnya tidak sesederhana “laut menyerap karbon lalu menyimpannya”. Ada rangkaian proses yang membuat karbon terus berpindah antara atmosfer, permukaan laut, organisme, perairan dalam, hingga sedimen.
Baca Juga: Blue Carbon vs Green Carbon: Memahami Perbedaan Mangrove dan Pohon Darat untuk Portofolio ESG Anda
Bukan Cuma Laut, Ekosistem Pesisir Juga Menyimpan Karbon
Ketika membicarakan laut sebagai penyerap karbon, ada tiga ekosistem pesisir yang sering mendapat perhatian: mangrove, padang lamun, dan salt marsh.
Ketiganya dikenal sebagai bagian dari blue carbon, yaitu karbon yang ditangkap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir. Menariknya, kemampuan menyimpan karbon tidak hanya berasal dari tanaman yang terlihat di atas permukaan.
Sebagian karbon justru tersimpan di sedimen atau tanah di bawah ekosistem tersebut. Material organik seperti daun dan akar yang mati dapat terakumulasi di sedimen, kemudian tersimpan dalam waktu yang panjang.
1. Mangrove

Mangrove merupakan salah satu contoh ekosistem pesisir yang memiliki kemampuan besar dalam menyimpan karbon. NOAA mencatat bahwa mangrove dan salt marsh dapat menyimpan karbon dari atmosfer dengan laju sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan hutan tropis dan menyimpan sekitar 3–5 kali lebih banyak karbon per satuan luas.
Yang menarik, karbon dalam mangrove banyak tersimpan di bawah permukaan. Akar, daun, dan material organik lainnya dapat tertimbun dalam sedimen yang relatif minim oksigen sehingga proses penguraiannya berlangsung lebih lambat.
Karena itu, menjaga mangrove bukan hanya tentang menanam pohon baru. Melindungi mangrove yang sudah ada juga berarti menjaga karbon yang selama ini tersimpan di dalam ekosistem tersebut.
2. Padang Lamun

Lamun mungkin terlihat sederhana karena hanya berupa tumbuhan yang tumbuh di dasar perairan. Namun, ekosistem ini juga memiliki peran dalam penyimpanan karbon.
NOAA mencatat bahwa padang lamun hanya menutupi sekitar 0,1% dasar laut, tetapi berkontribusi terhadap sekitar 11% karbon organik yang terkubur di laut.
Karbon dapat tersimpan dalam biomassa lamun maupun sedimen di sekitarnya. Karena itu, kerusakan padang lamun bukan hanya berarti kehilangan habitat bagi biota laut, tetapi juga berpotensi mengurangi fungsi penyimpanan karbon ekosistem tersebut.
3. Salt Marsh

Salt marsh adalah ekosistem pesisir berupa lahan basah yang didominasi tumbuhan toleran terhadap air asin dan biasanya ditemukan di wilayah pesisir yang terlindung, seperti muara sungai dan teluk. Ekosistem ini menjadi salah satu bagian penting dari blue carbon karena mampu menangkap karbon dan menyimpannya di dalam biomassa tumbuhan serta sedimen.
Seperti mangrove, salt marsh dapat mengakumulasi material organik di tanah yang jenuh air dan relatif minim oksigen. Kondisi ini memperlambat penguraian material organik sehingga karbon dapat tersimpan dalam sedimen selama waktu yang panjang.
Ketika salt marsh mengalami kerusakan atau dikonversi menjadi penggunaan lahan lain, karbon yang tersimpan di dalam tanah berpotensi terlepas kembali ke atmosfer. Karena itu, melindungi ekosistem ini tidak hanya penting untuk menjaga habitat dan keanekaragaman hayati pesisir, tetapi juga untuk mempertahankan penyimpanan karbon alami.
Salt marsh banyak ditemukan di wilayah beriklim sedang dan tidak seumum mangrove di Indonesia. Supaya relevan dengan pembaca Indonesia, kamu bisa menambahkan keterangan singkat bahwa ketiga ekosistem ini merupakan contoh blue carbon global, meskipun persebarannya berbeda-beda di setiap wilayah.
Kenapa Kemampuan Menyimpan Karbon Ini Penting?
Satu hal yang perlu dipahami adalah menyerap karbon dan menyimpan karbon bukan hal yang sepenuhnya sama.
Sebuah ekosistem dapat mengambil karbon dari atmosfer, tetapi manfaatnya terhadap iklim juga dipengaruhi oleh berapa lama karbon tersebut dapat bertahan di dalam biomassa, tanah, atau sedimen.
Inilah yang membuat ekosistem seperti mangrove dan lamun menarik dalam pembahasan karbon. Karbon yang masuk ke dalam sedimen dapat tersimpan dalam waktu yang sangat panjang selama ekosistemnya tetap dalam kondisi baik.
Sebaliknya, ketika ekosistem mengalami kerusakan, karbon yang sebelumnya tersimpan berpotensi kembali dilepaskan. Jadi, menjaga ekosistem penyerap karbon sama pentingnya dengan memulihkan ekosistem yang sudah rusak.
Laut yang Sehat, Penyerap Karbon yang Tetap Berfungsi

Laut menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pencemaran, kerusakan habitat, perubahan suhu, hingga perubahan kondisi kimia laut. Tekanan tersebut tidak hanya berdampak pada ikan atau terumbu karang, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam menjalankan fungsi alaminya.
Karena itu, aksi menjaga laut sebenarnya punya manfaat yang lebih luas. Ketika mangrove, lamun, dan ekosistem pesisir tetap sehat, fungsi ekologisnya termasuk dalam menyerap dan menyimpan karbon juga dapat terus berjalan.
Dengan kata lain, konservasi laut bukan hanya tentang melindungi satwa dan menjaga ekosistem, tetapi juga mempertahankan sistem alami yang membantu bumi menghadapi perubahan iklim sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir. Bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada laut, seperti nelayan dan pelaku usaha perikanan, ekosistem yang sehat turut mendukung keberlanjutan sumber penghidupan mereka.
Baca Juga: Apa Itu Blue Carbon? Mengenal Ekosistem Penyerap Karbon di Laut
Wujudkan Aksi Nyata Perusahaan Menjaga Ekosistem Bersama Bumi Journey

Hutan dan laut sama-sama memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim. Selain melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem seperti mangrove dan padang lamun juga membantu menyerap dan menyimpan karbon. Karena itu, menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesisir menjadi bagian penting dari upaya menghadapi perubahan iklim.
Bagi perusahaan, kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dengan menghadirkan pengalaman yang membuat karyawan terlibat langsung, seperti mangrove planting, coral restoration, dan beach clean up. Kegiatan ini dapat menjadi bagian dari corporate outing, employee volunteering, maupun program CSR yang menggabungkan team bonding dengan aksi nyata untuk lingkungan.
Namun, dampak kegiatan tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau banyaknya tanaman yang ditanam. Pemilihan lokasi, kondisi ekosistem, keterlibatan masyarakat lokal, serta keberlanjutan program setelah kegiatan juga perlu menjadi perhatian agar manfaatnya dapat terus dirasakan.
Bumi Journey hadir sebagai partner Anda dalam merancang program CSR yang sustainable dan regenerative. Mulai dari mangrove planting, tree planting, hingga berbagai aktivitas lingkungan lainnya, setiap program dirancang agar tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Konsultasikan ide Anda dengan tim Bumi Journey dan temukan pendekatan berbasis alam yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda. Hubungi kami sekarang.
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan penyerap karbon alami?
Penyerap karbon alami adalah ekosistem yang mampu mengambil karbon dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa, tanah, atau sedimen.
2. Apa contoh penyerap karbon selain hutan?
Laut, mangrove, padang lamun, tanah, dan ekosistem pesisir lainnya juga berperan dalam menyerap serta menyimpan karbon.
3. Mengapa ekosistem pesisir perlu dilindungi?
Selain menjadi habitat berbagai spesies, ekosistem pesisir membantu menyimpan karbon dan melindungi wilayah pantai dari berbagai tekanan lingkungan.
Penulis: Diftya Maulidza | Editor: Lidia Faiza Jasmine
