Blue Carbon vs Green Carbon: Memahami Perbedaan Mangrove dan Pohon Darat untuk Portofolio ESG Anda

Highlight:

  • Blue carbon (mangrove) menyimpan karbon tidak hanya pada vegetasi, tetapi juga pada sedimen di bawahnya.
  • Green carbon (pohon darat) dan mangrove memiliki mekanisme serta kondisi penyimpanan karbon yang berbeda.
  • Pemilihan program offset karbon perlu mempertimbangkan lokasi, tujuan, dan metode pengukuran dampaknya.

Mengenal Blue Carbon dan Green Carbon

Pernah mendengar istilah blue carbon dan bertanya-tanya apa bedanya dengan karbon yang disimpan oleh hutan di daratan (yang dalam literatur sains sering disebut sebagai green carbon)? Istilah ini memang semakin sering muncul dalam pembahasan perubahan iklim, terutama ketika perusahaan mulai mencari pendekatan berbasis alam untuk mendukung target pengurangan emisi.

Secara sederhana, blue carbon merujuk pada karbon yang ditangkap dan disimpan oleh ekosistem laut serta pesisir, termasuk mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut. Sementara itu, green carbon merujuk pada emisi yang diserap oleh ekosistem hutan daratan.

Mangrove menjadi salah satu ekosistem blue carbon yang menarik perhatian karena sebagian besar karbonnya tidak hanya tersimpan pada batang, daun, dan akar, tetapi juga pada tanah atau sedimen yang tergenang di bawahnya. Kondisi tersebut memungkinkan karbon organik tersimpan dalam waktu yang sangat lama selama ekosistem tetap terjaga.

Apa Bedanya Mekanisme Penyimpanan Keduanya?

Sama-sama menyerap karbon dari atmosfer, bukan berarti cara kerja dan kapasitas penyimpanannya sama. Perbedaan lingkungan tempat keduanya tumbuh membuat karbon tersimpan pada bagian ekosistem yang berbeda.

AspekBlue Carbon MangroveKarbon Pohon Darat
EkosistemWilayah pesisir, muara, dan area pasang surutHutan dan ekosistem daratan
Tempat karbon tersimpanBiomassa sekaligus tanah/sedimenTerutama biomassa pohon dan tanah
Karakter penyimpananBanyak karbon tersimpan di bawah permukaan dalam sedimen yang tergenangBanyak karbon tersimpan pada batang, cabang, daun, akar, dan tanah
Manfaat tambahanPerlindungan pesisir, habitat biota, dan mendukung perikananMenjaga tanah, habitat satwa, kualitas udara, dan ekosistem daratan
Kesesuaian programCocok untuk restorasi ekosistem pesisir yang mengalami degradasiCocok untuk penghijauan atau restorasi ekosistem daratan yang sesuai
Potensi karbonDapat memiliki penyimpanan karbon per satuan luas yang sangat tinggiPotensinya bervariasi berdasarkan jenis hutan, iklim, tanah, dan kondisi vegetasi

Salah satu alasan mangrove menarik dalam konteks karbon adalah kontribusi besar dari carbon-rich soil atau tanah yang kaya karbon. Penelitian di Nature Geoscience menemukan bahwa 49–98% penyimpanan karbon pada ekosistem mangrove yang diteliti berasal dari tanah, dengan rata-rata penyimpanan seluruh ekosistem sekitar 1.023 Mg karbon per hektare.

Dalam konteks penyimpanan karbon per satuan luas, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mangrove dapat memiliki kapasitas yang sangat tinggi dibandingkan banyak ekosistem hutan darat. NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) menyebut mangrove dan rawa pasang surut dapat menyimpan sekitar tiga hingga lima kali lebih banyak karbon per acre dibandingkan hutan tropis, sementara laju pengambilan karbonnya juga dapat jauh lebih tinggi.

Namun, angka tersebut tidak berarti setiap hektare mangrove pasti menyimpan lebih banyak karbon daripada setiap hektare hutan darat. Kondisi ekosistem, umur vegetasi, jenis tanah, iklim, tingkat gangguan, serta metode pengukuran dapat memengaruhi hasil sehingga perbandingan perlu dilakukan pada kondisi yang sebanding.

Baca Juga: Lebih Efektif dari Hutan Biasa, Ini 5 Manfaat Penanaman Mangrove Berbasis Blue Carbon

Pilihan Terbaik untuk Strategi Carbon Offset Perusahaan

Mangrove dapat menjadi pilihan yang sangat relevan ketika perusahaan ingin mendukung restorasi ekosistem pesisir sekaligus memperoleh manfaat tambahan seperti perlindungan pantai dan dukungan terhadap habitat perikanan.

Sementara itu, penanaman pohon darat tetap memiliki peran penting ketika dilakukan pada ekosistem yang tepat. Program tersebut dapat membantu memulihkan tutupan vegetasi, meningkatkan biodiversitas, dan menyimpan karbon dalam biomassa serta tanah.

Yang perlu diperhatikan, menanam pohon atau mangrove tidak otomatis sama dengan mendapatkan carbon offset yang dapat diklaim perusahaan. Offset karbon membutuhkan pengukuran emisi, metodologi yang jelas, pemantauan, serta verifikasi sesuai standar yang digunakan agar jumlah karbon yang diklaim benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Bukan Sekadar Menanam, tetapi Memastikan Karbon Tetap Tersimpan

Salah satu hal yang sering terlupakan dalam program karbon adalah keberlanjutan setelah kegiatan penanaman selesai. 

Bibit yang ditanam memang menjadi output, tetapi dampak karbon baru dapat dirasakan jika vegetasi mampu bertahan dan ekosistem terus dikelola.

Untuk mangrove, hal ini menjadi semakin penting karena karbon yang tersimpan di sedimen dapat kembali dilepaskan apabila ekosistem mengalami kerusakan atau perubahan penggunaan lahan. 

IUCN juga menekankan bahwa ketika ekosistem blue carbon mengalami degradasi atau kehancuran, karbon yang sebelumnya tersimpan dapat kembali menjadi emisi.

Karena itu, program berbasis karbon sebaiknya tidak berhenti pada aktivitas penanaman. Monitoring, pemeliharaan, perlindungan kawasan, dan pengukuran karbon menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat lingkungan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Cara Menghitung Jejak Karbon (Carbon Footprint) dari Acara Outing Tahunan Kantor Anda

Wujudkan Strategi Carbon Offset yang Berdampak Bersama Bumi Journey

Jika melihat potensi penyimpanan per satuan luas, ekosistem mangrove (blue carbon) memang memiliki keunggulan luar biasa karena mampu mengunci karbon dalam sedimen pesisir. Meski demikian, pohon darat (green carbon) tetap memiliki peran yang sama krusialnya dengan manfaat ekologisnya tersendiri untuk ekosistem daratan.

Pada akhirnya, pilihan terbaik bukanlah tentang mencari mana yang paling superior, melainkan inisiatif mana yang paling selaras dengan kondisi lokasi dan visi sustainability perusahaan Anda. 

Ketika dieksekusi di tempat yang tepat, dengan metode yang tepat, serta disertai monitoring yang jelas, keduanya merupakan strategi berbasis alam yang sangat kuat untuk mendukung upaya dekarbonisasi.

Bumi Journey hadir sebagai partner Anda dalam merancang program CSR jangka panjang yang sustainable dan regenerative. Dengan pendekatan yang terukur, berdampak, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, kami siap membantu perusahaan menciptakan program CSR yang tidak hanya memberikan manfaat hari ini, tetapi juga meninggalkan dampak positif untuk masa depan.

Konsultasikan program CSR perusahaan Anda bersama tim Bumi Journey. Temukan solusi yang sesuai dengan tujuan bisnis sekaligus memberikan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan sesuai keinginan Anda! Hubungi kami sekarang.

FAQ:

1. Mengapa mangrove penting dalam upaya dekarbonisasi perusahaan?

Mangrove mampu menyimpan karbon sekaligus menjaga ekosistem pesisir, sehingga dapat menjadi bagian dari strategi lingkungan perusahaan.

2. Apa saja ekosistem yang termasuk dalam blue carbon?

Blue carbon mencakup ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut yang mampu menyerap serta menyimpan karbon.

3. Apakah penanaman mangrove hanya memberikan manfaat untuk penyerapan karbon?

Tidak. Mangrove juga membantu melindungi pesisir, menyediakan habitat biota laut, dan mendukung masyarakat yang bergantung pada ekosistem pesisir.

Penulis: Diftya Maulidza | Editor: Lidia Faiza Jasmine