Ingub DKI Jakarta tentang Wajib Pilah Sampah: Apa yang Perlu Diketahui Warga? 

Highlight:

  • Ingub DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 menggerakkan masyarakat untuk mulai memilah dan mengolah sampah dari sumber, termasuk rumah tangga.
  • Memilah sampah dari level rumah membantu meningkatkan proses daur ulang dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
  • Kebiasaan sederhana ini dapat dimulai dengan langkah praktis yang mudah diterapkan oleh seluruh anggota keluarga.

Dalam beberapa tahun terakhir, krisis di berbagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mulai dari kondisi kelebihan kapasitas (overload) hingga insiden kebakaran, menjadi sinyal darurat pengelolaan sampah perkotaan. Rentetan peristiwa ini menyadarkan kita bahwa sistem konvensional yang sekadar mencampur dan membuang semua muatan ke satu titik akhir sudah tidak lagi relevan.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

Kebijakan ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah, dimulai dari sumbernya. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, diharapkan proses pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan sampah dapat berjalan lebih efektif sehingga beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat berkurang.

Dari kebijakan ini, masyarakat didorong untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah sebagai langkah awal menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui gerakan ini, pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak lagi mencampur seluruh jenis sampah dalam satu wadah. Sebaliknya, sampah perlu dipisahkan berdasarkan kategorinya agar proses pengolahan maupun daur ulang dapat berjalan lebih optimal.

Sebagian besar sampah di perkotaan berasal dari aktivitas rumah tangga. Ketika seluruh sampah tercampur, material yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan kembali menjadi sulit diproses karena telah terkontaminasi.

BacaJuga: 5 Kebiasaan untuk Mengurangi Jejak Karbon di Kantor yang Simpel tapi Berdampak Nyata

Cara Mudah Memilah Sampah di Rumah

1. Pisahkan Sampah Organik dan Anorganik

Langkah pertama adalah menyediakan minimal dua tempat sampah di rumah. Gunakan satu wadah untuk sampah organik seperti sisa makanan dan daun, sedangkan wadah lainnya digunakan untuk sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng, dan kertas.

Faktanya, tumpukan sampah organik yang dibiarkan membusuk di TPA akan memproduksi gas metana yang memicu insiden ledakan dan kebakaran. Karena itulah pengelolaan sisa makanan dari rumah menjadi sangat krusial, Anda bisa menyiasatinya dengan membuat pupuk kompos sederhana, memanfaatkan lubang biopori, atau menjadikannya pakan hewan ternak.

2. Pisahkan Sampah Berdasarkan Jalur Pengolahannya

Selain memisahkan sampah organik dan anorganik, kenali juga bagaimana setiap jenis sampah akan dikelola. Misalnya, sampah organik dapat diolah menjadi kompos, material seperti botol plastik, kertas, dan logam dapat disalurkan ke bank sampah atau fasilitas daur ulang, sedangkan sampah residu seperti popok sekali pakai dan tisu bekas memang harus berakhir di TPA.

Dengan memilah berdasarkan jalur pengolahannya, peluang sampah untuk dimanfaatkan kembali menjadi lebih besar sekaligus membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

3. Pastikan Material Daur Ulang Tidak Terkontaminasi

Salah satu penyebab material gagal didaur ulang adalah karena tercampur dengan sisa makanan atau cairan. Sebelum membuang botol plastik, kaleng, maupun kemasan makanan, biasakan membilas dan mengeringkannya agar kualitas material tetap terjaga.

Langkah sederhana ini membantu proses penyortiran di fasilitas daur ulang menjadi lebih efisien sekaligus meningkatkan peluang material untuk diolah kembali menjadi produk baru.

4. Kelola Sampah Organik Sedekat Mungkin dengan Sumbernya

Sampah organik merupakan penyumbang terbesar sampah rumah tangga di Indonesia. Apabila memungkinkan, olah sisa makanan menjadi kompos, manfaatkan lubang biopori, atau gunakan sebagai pakan ternak agar tidak seluruhnya berakhir di TPA.

Selain mengurangi volume sampah, cara ini juga membantu menekan pembentukan gas metana dari proses pembusukan sampah organik yang menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca.

5. Salurkan Sampah ke Tempat yang Tepat

Memilah sampah hanyalah langkah awal. Agar memberikan manfaat bagi lingkungan, sampah yang sudah dipisahkan perlu disalurkan ke tempat yang sesuai, seperti bank sampah, TPS3R, pusat daur ulang, atau fasilitas pengelolaan limbah B3 untuk baterai, lampu, dan limbah elektronik.

Dengan memastikan sampah dikelola melalui jalur yang tepat, material yang masih bernilai dapat dimanfaatkan kembali sehingga mendukung penerapan ekonomi sirkular dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA.

Mengapa Memilah Sampah Perlu Dimulai dari Rumah?

memilah-sampah

Pengelolaan sampah yang dimulai dari sumber merupakan salah satu langkah paling efektif untuk meningkatkan tingkat daur ulang dan mengurangi pencemaran lingkungan. Ketika sampah dipilah sejak awal, material yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali, sementara jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat ditekan.

Kebiasaan ini memang terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten oleh setiap rumah tangga, dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan. Semakin banyak masyarakat yang mulai memilah sampah dari rumah, semakin kuat pula fondasi untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Rajin Buang Sampah Ternyata Ampuh Mengatasi Stres Kerja & Bikin Jarang “Ngamuk” di Grup WA

Bumi Journey hadir sebagai partner Anda dalam merancang program CSR, outing kantor, hingga school trip yang sustainable dan regenerative. Dengan pendekatan yang terukur, berdampak, dan menyenangkan, kami siap membantu Anda menciptakan pengalaman yang tak hanya memorable, tapi juga penuh makna!

Konsultasikan ide Anda dengan tim Bumi Journey untuk program yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda! Hubungi kami sekarang.

FAQ:

1. Mengapa kebiasaan ramah lingkungan perlu diajarkan sejak usia dini?

Mengenalkan kebiasaan ramah lingkungan kepada anak membantu membentuk karakter yang lebih peduli terhadap alam. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten akan lebih mudah terbawa hingga dewasa.

2. Apa manfaat mengikuti kegiatan edukasi lingkungan bersama komunitas?

Kegiatan edukasi lingkungan memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif, memperluas wawasan, sekaligus mendorong peserta untuk menerapkan kebiasaan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Bagaimana perusahaan dapat membangun budaya peduli lingkungan di tempat kerja?

Perusahaan dapat memulainya melalui edukasi rutin, penyediaan fasilitas pendukung, serta kegiatan sustainability yang melibatkan seluruh karyawan agar kebiasaan baik dapat diterapkan secara konsisten.

Penulis: Diftya Maulidza | Editor: Lidia Faiza Jasmine